Catatan Awal Tahun Warga Keturunan Tionghoa di Sampit

Catatan Awal Tahun Warga Keturunan Tionghoa di Sampit

CATATAN.CO.ID, Sampit – Warga keturunan Tionghoa menyambut dengan gembira datangnya Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili, Minggu 22 Januari 2023.

Sebelum memasuki tahun baru, warga keturunan Tionghoa beragama Budha di Vihara Karuna Maitreya Sampit melaksanakan Xin Nian atau ibadah tutup tahun, pukul 21.00.

Ibadah ini juga menandai berakhirnya tahun macan air. Dan masuk ke tahun kelimci air.

Setelah ibadah tutup tahun, para umat akan melanjutkan ibadah selanjutnya pada pukul 23.00, yakni ritual menyambut tahun baru atau Bai Nian.

“Ibadah tahun baru kami dibagi dua. Pertama diawali dengan puja bakti tutup tahun jam 21.00 malam, dilanjutkan ibadah jam 23.00, diawali dengan ritual persembahan, kemudian ritual Bai Nian, sekaligus juga memperingati hari kelahiran Buddha Maitreya,” kata Pengurus Vihara Karuna Maitreya Sampit, Ong Agus.

Selain ibadah yang digelar umat Budha , jelang tahun baru Imlek, saat sambut tahun baru Imlek 2023, warga Tionghoa juga memiliki banyak tradisi yang selalu di jaga. Mereka selalu menjaga tradisi dengan baik sehingga kebiasaan dan tradisi tersebut tak pernah pudar dimakan waktu.

Ada beberapa tradisi tionghoa yang selalu dijaga dan dilakukan saat Imlek. Mulai dari mempersiapkan makanan hingga bersih-beraih rumah dan altar tempat sembahyang. Tak lupa untuk menyiapkan angpao yang selalu wajib ada saat tahun baru Imlek.

Pada saat malam tahun baru, biasanya masyarakat Tionghoa akan melakukan makan makan besar. Makan malam besar ini akan dihadiri oleh seluruh anggota keluarga.

“Menikmati makan malam reuni keluarga di malam tahun baru Imlek sudah menjadi tradisi di keluarga kami. Perayaan Imlek adalah waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Terutama keluarga yang lama merantau, ini saatnya kumpul,” kata Alie, warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Menurutnya di malam Tahun Baru Cina tersebut adalah waktu yang paling penting, karena orang-orang diharapkan berada di rumah untuk merayakan Imlek bersama keluarga sesibuk apapun itu.

Sudah menjadi tradisi di keluarganya saat makan malam keluarga biasanya ada banyak makanan yang tersedia. Makanan yang dihidangkan pun bukanlah makanan sembarangan. Semua makanan penuh
makna dan symbol.

“Ada makanan yang dianggap memberi keberuntungan seperti ikan dan mie yang memiliki makna agar panjang umur,” tambahnya.

Selain itu ada tradisi lain yang biasanya dilakukan saat perayaan Imlek, yakni bertukar Amplop Merah atau angpao dan hadiah lainnya. Pada tradisi ini, merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu.

“Ini tradisi yang biasanya paling ditunggu-tunggu. Dimana yang masih single dan belum berkeluarga akan diberikan hadiah. Hadiah yang paling umum adalah angpao,” tuturnya.

Amplop merah atau angpao tersebut berisi uang dan sering diberikan kepada anak-anak, kerabat yang lajang. Jumlah uang berkisar dari beberapa puluh ribu hingga beberapa ratus ribu.

Seminggu jelang tahun baru ini juga, warga keturunan Tionghoa membersihkan dan mendekorasi rumah dengan pernak pernik yang umum berwarna merah ataupun emas.

Tradisi membersihkan rumah bagi kepercayan mereka melambangkan menyapu kesialan tahun sebelumnya, dan membuat rumah mereka siap menerima keberuntungan.

Sedangkan warna merah adalah warna yang diyakini sebagai warna keberuntungan untuk Tahun Baru Imlek. Di samping itu, warna merah ini menunjukkan kemakmuran dan energi yang dapat mengusir roh jahat dan segala sesuatu yang bersifat negatif.

Biasanya warna merah didominasi dengan menggantungkan lentera merah di jalan-jalan, dan gambar Tahun Baru ditempel di pintu.

Perayaan Imlek pada tahun 2023 ini diharapkan bukan hanya sebuah perayaan dan mengulang tradisi saja. Akan tetapi dapat membawa keberkahan bagi siapa saja. (C1)

HARI JADI KE 70 KOTIM
administrator

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *