Mengenal Bubur Baayak, Kuliner Khas saat Bulan Safar

Mengenal Bubur Baayak, Kuliner Khas saat Bulan Safar

CATATAN.CO.ID, Sampit – Selain tradisi mandi safar, ada lagi satu tradisi yang lekat dengan bulan Safar yakni bubur baayak. Saat ini tradisi mengolah dan membagikan bubur ini mulai langka di Indonesia termasuk di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Salah satu yang masih tetap konsisten melaksanakan tradisi asli melayu ini adalah keluarga besar Idar di Jalan Ir Juanda, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Keluarga ini memasak dan membagikan bubut baayak kepada tetangga dan kerabat, Rabu, 21 September 2022.

“Berbeda dengan bubur asyura kali ini cuma untuk kalangan kami saja soalnya bukan hal yang dianjurkan. Sekadar berbagi dengan tetanggan dan kerabat,” jelas Muhammad Junus, juru masak bubur baayak, Kamis, 22 September 2022.

Dinamakan bubur baayak karena dalam memasaknya melalui proses meayak, istilah dalam bahasa Banjar, Kalimantan Selatan, atau bisa diartikan dengan menggoyang atau menyaring.

Kuliner Indonesia yang sudah mulai langka ini biasanya bermunculan dan biasa dijumpai tak hanya saat bulan safar tapi juga peringatan hari-hari besar keagamaan lainnya.

Jajanan tradisonal ini biasa sebagai takjil di bulan Ramadan. Tapi karena biasanta dibuat di bulan Safar maka orang menyebutnya bubur safar.

Dalam tradisi bubur safar atau bubur baayak, orang bisa bersilaturahmi kepada keluarga dan tetangga. Mereka bersilahturahmi dengan saling mengantar panganan yang diolah sendiri atau secara berkelompok, kemudian dibagikan kepada tetangga atau keluarga.

“Makna dari tradisi berbagi memupuk rasa saling berbagi untuk bersedekah. Sedekah, tidak harus dengan uang dalam jumlah besar tapi cukup dengan biaya murah, salah satunya berbagi panganan manis pun bisa bersedekah kepada orang lain,” ucap Junus.

Pembuatan bubur baayak, dilakukan dengan menggunakan saringan atau anyaman daun nyiur
Hasil pengayakan tersebutlah yang akan dijadikan bahan pembuatan jajanan ini.

Berbeda dengan bubur asyura yang gurih, baayak ini cenderung manis.
Bubur khas yang diolah menggunakan tepung beras tersebut memiliki ciri khas warna dasar coklat, rasanya manis dari gula merah dan asin gurih dari santan kelapa.

“Karena proses pengolahannya yang unik dengan digoyang dalam bahasa Banjar dikatakan maayak, maka orang Banjar Kalsel menyebutnya Bubur Baayak,” terang Junus.

Adapun bahan yang digunakan untuk membuat bubur baayak adalah : tepung beras, tepung terigu, air kapur sirih, , gula merah, santan cair, garam, daun pandan dan air

Dan cara membuatnya : tepung beras, tepung terigu, air kapur sirih, dan dicampur dengan air sedikit demi sedikit, diuleni hingga adonan kalis.

Selanjutnya, rebus gula merah, santan cair, garam dan daun pandan masak hingga mendidih dengan api kecil.

Ambil sedikit adonan dan letakkan di atas saringan kemudian tekan menggunakan sendok di atas kuah yang sedang mendidih tadi, lakukan hingga adonan habis dan masak hingga bubur matang dan mengental.

Lalu, masak bahan kuah santan hingga mendidih.

Saat menyajikan siram bubur baayak dengan kuah santan di atasnya.

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam sistem penanggalan Islam atau kalender Hijriah . Sedangkan Rabu Mustamir adalah hari rabu terakhir di bulan Safar.

Di Indonesia yang syarat akan tradisi dan kebiasaan khususnya pada rabu terakhir di bulan Safar seperti doa bersama, membuat panganan dan pelaksanaan mandi di sungai atau laut yang dikenal dengan tradisi mandi safar. Tradisi ini telah berlangsung lama.

Tradisi merupakan sub-sistem dari norma sosial masyarakat yang merupakan hasil proses interaksi antar umat manusia dengan manusia lainnya atau dengan alam sekitar.

Proses interaksi ini telah melahirkan norma-norma atau kesepakatan sosial yang melembaga. Norma-norma yang dilakukan secara berulang-ulang oleh sebuah komunitas, dan selanjutnya diwariskan kepada generasi berikutnya secara turun-temurun itulah yang disebut sebagai tradisi.

Kalangan pemuka agama mengingatkan tradisi atau amalan yang kerap dilakukan di bulan Safar, seperti mandi safar maupun pembuatan panganan atau jajanan dan kegiatan yang menyertainya khususnya saat arba mustamir, karena tidak dianjurkan dan bukan perintah Allah SWT dan bersumber dari hadist Nabi SAW.

Oleh karena itu, umat islam diminta untuk berhati-hati menyikapinya ataupun niat dalam melaksanakan sebuah tradisi agar tidak sampai menimbulkan kezaliman, kesyirikan ataupun kemusyrikan. (C1)

administrator

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *