Sani Hanya Ingin Mandi, Tapi Buaya Menyergapnya di Depan Warga

Tim gabungan dan warga berupaya mencari Sani, korban serangan buaya, di Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat, 4 April 2025.
Tim gabungan dan warga berupaya mencari Sani, korban serangan buaya, di Desa Bapinang Hulu, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat, 4 April 2025.

CATATAN.CO.ID, Sampit – Libur Lebaran yang seharusnya menjadi momen silaturahmi dan kebahagiaan berubah menjadi duka bagi keluarga Sani (35). Pria asal Desa Babaung itu tewas diduga diterkam buaya saat mandi di sungai di Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat, 4 April 2025, sekitar pukul 09.00 WIB. Peristiwa tragis itu terjadi di depan mata warga yang sedang berada di sekitar lokasi.

Kepala Desa Hanaut, Nanang Qasim, mengisahkan kronologi kejadian yang mengguncang warganya itu. Saat itu, Sani sedang mandi di sungai tidak jauh dari rumah keluarga istrinya yang sedang ia kunjungi. Tanpa disangka, seekor buaya muncul dan langsung menyerang.

“Korban sedang mandi di sungai, lalu tiba-tiba diserang buaya. Dia tidak langsung diseret ke dalam air, tapi sempat dihempas-hempaskan. Banyak warga melihat kejadian itu secara langsung,” kata Nanang.

Nanang menjelaskan, Sani datang ke Hanaut dalam rangka berlibur bersama keluarga istrinya. Namun nahas, kehadirannya justru berujung petaka. Hingga kini, jasad Sani belum ditemukan.

“Korban ini warga Desa Babaung, tapi sedang berkunjung ke sini karena libur Lebaran. Sungai di sini memang kerap dilintasi buaya, dan kejadian seperti ini bukan yang pertama,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat setempat sudah lama merasa resah terhadap keberadaan buaya yang sering muncul di perairan sekitar. Namun, keterbatasan aturan membuat warga tidak bisa bertindak sembarangan terhadap satwa liar tersebut.

“Pernah ada warga sampai kehilangan tangan akibat diserang buaya. Tapi karena banyak aturan yang melindungi buaya, kami hanya bisa mengimbau warga agar lebih berhati-hati,” ujarnya.

Hingga saat ini, upaya pencarian korban masih terus dilakukan. Sekitar 20 kelotok (perahu bermesin) dikerahkan warga untuk menyisir lokasi kejadian. Pihak desa juga sudah berkoordinasi dengan Polsek setempat, BKSDA, Polairud, dan BPBD yang juga turut membantu pencarian.

“Sudah hampir 20 kelotok kami kerahkan. Warga mengepung sungai untuk mencari korban maupun buaya tersebut, tapi hasilnya masih nihil,” ungkap Nanang.

Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi warga yang hidup berdampingan dengan sungai. Nanang berharap peristiwa serupa tidak terulang lagi.

“Kami mengimbau warga untuk tidak mandi atau beraktivitas di sungai tanpa pengawasan. Perairan Hanaut ini memang dikenal sebagai habitat alami buaya muara,” pungkasnya.(C1/*)

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *