CATATAN.CO.ID, Sampit – Peringati G30S/PKI, seorang akademisi memberikan sebuah pesan kepada generasi Z, termasuk para mahasiswa. Akademisi tersebut ialah seorang Dosen STIH (Sekolah Tinggi Ilmu Hukum) Habaring Hurung Sampit, Tasrifinoor, Jumat 30 September 2022. Adalun, generasi Z merupakan generasi yang lahir pada periode tahun 1996-2009.
“Kami menyarankan para mahasiswa menonton di kanal televisi ataupun youtube untuk memperingati, kilas balik sejarah G30S/PKI,” imbau Tasrifinoor.
Tasrifinoor juga menilai bahwa saat ini kecintaan mahasiswa untuk mempelajari sejarah masih kurang, khususnya pada peristiwa G30S/PKI. Menurutnya, kebanyakan mahasiswa saat ini terlalu sibuk dengan urusannya personal masing-masing. Hingga akhirnya, mereka secara perlahan melupakan sejarah.
Ia melanjutkan, salah satu cara untuk memupuk kecintaan mahasiswa terhadap sejarah adalah melalui membaca. Informasi bacaan mengenai sejarah dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik dari media elektronik, maupun cetak.
Buku-buku karangan para pejuang pun, menurut Tasrifinoor, juga bisa dijadikan sebagai referensi pembelajaran sejarah yang otentik, misalnya buku-buku karangan Mohammad Hatta dan pahlawan lainnya. Terlebih, pada umumnya dalam buku-buku tersebut terdapat beberapa keterangan primer dari saksi-saksi sejarah, termasuk pada peristiwa G30S/PKI ini.
“Bagaimana cara cinta terhadap sejarah? Caranya adalah membaca,” tegas Tasrifinoor.
Selanjutnya, Tasrifinnor menekankan bahwa mahasiswa harus memahami peristiwa sejarah, termasuk G30S/PKI, secara substantif. Dirinya mengatakan, bahwa saat ini kebanyakan mahasiswa hanya menilai peristiwa sejarah G30S/PKI sebagai gerakan tidak bermoral, tidak beretika, dan lain sebagainya. Tetapi, mahasiswa tidak tahu apa substasi dari peristiwa sejarah tersebut.
Contohnya saja, seorang mahasiswa mengatakan, “G30S/PKI itu kan yang saya ketahui cuma di bagian penculikan jenderal-jenderal itu. Itu aja.”
Menurut Tasrifinoor, secara substantif, peristiwa sejarah G30S/PKI memberikan pesan bahwa setiap peristiwa sejarah yang terjadi ada orang penting dibaliknya. Orang penting yang dimaksud adalah aktor intelektual yang menjadi otak terciptanya peristiwa sejarah, termasuk G30S/PKI.
Selain mahasiswa, elemen Generasi Z lainnya yang harus berpatisipasi aktif dalam memperingati peristiwa sejarah adalah pada kalangan jurnalis atau wartawan. Tasrifinoor menekankan bahwa setiap jurnalis harus menyajikan tulisan yang terverifikasi. Sebab, melalui tulisannya, jurnalis menjadi garda terdepan dalam edukasi kepada publik mengenai peristiwa sejarah.
“Kita sebagai wartawan, tidak bisa sembarangan. Harus berasal dari narasumber. Begitupun mahasiswa, harus membaca sumber-sumber sejarah yang valid narasumbernya,” pesan Tasrifinoor. (C10)




