CATATAN.CO.ID, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor rupanya memiliki alasan khusus mengapa dirinya sering memberikan bonus kepada penari adat tradisional.
“Makanya tadi, misalnya kayak penari. Kenapa sering saya kasih bonus itu. Karena, jarang sekali anak-anak muda-mudi itu yang mau menari. Karena takut dianggap kampungan,” katanya dengan raut wajah prihatin, Kamis, 2 Maret 2023.
Padahal menurutnya, persepsi kalangan muda semacam itu tidak tepat. Ia pun mencontohkan negara seperti Korea, Jepang, Cina, atau daerah Bali di Indonesia yang wilayahnya sudah maju, tetapi tetap berbudaya.
“Kita lihat negara-negara maju. Korea, Jepang, Cina, budayanya tetap sangat dijaga itu. Termasuk, kita di Indonesia nggak usah jauh, Bali saja justru, adat istiadat mereka menjadi nilai jual,” ujarnya.
Bahkan, dirinya takjub terhadap kebijakan Pemerintah Daerah Bali yang sangat menghargai adat istiadat daerahnya. Seperti misalnya, saat peringatan Hari Raya Nyepi.
“Coba kalau misalnya, Hari Raya Nyepi. Pesawat pun tidak ada boleh yang terbang, diikuti itu,” terang Halikin.
Disebutkannya, kesenian tradisional khas Bali justru menjadi nilai jual di bidang pariwisata, contohnya tari daerah Bali, Tari Kecak.
Karenanya, ia berharap Kotim tetap melestarikan kebudayaan dan adat istiadat daerah di tengah arus modernisasi.
“Silahkan kita tetap ikuti modernisasi. Tetapi, jati diri kita jangan hilang, teknologi harus tetap kita ikuti juga. Tetapi, jati diri kita, budaya daerah kita jangan hilang,” tekan Halikin.
Oleh sebab itu, ia dan Pemkab Kotim akan terus mendukung kegiatan berlangsungnya kegiatan adat istiadat di wilayah Kotim. Salah satunya, ia baru saja melantik Daamang Kepala Adat Baamang untuk periode 2023-2029. (C10)











