PBS Diduga Garap Lahan di Luar SPK, Warga Desa Satiung Lapor Polisi

Penyidik Polda Kalteng (kiri) Cek ke lapangan di Desa Satiung, Sabtu, 21 Maret 2024.
Penyidik Polda Kalteng (kiri) Cek ke lapangan di Desa Satiung, Sabtu, 21 Maret 2024.

CATATAN.CO.ID, Sampit – Warga Desa Satiung Kecamatan Mentaya Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur melaporkan PT Katingan Indah Utama (KIU) ke Polda Kalteng. Pasalnya, perusahaan besar swasta tersebut diduga telah menggarap lahan di luar surat perjanjian kerja (SPK).

Atas laporan masyarakat itu, penyidik dari Ditreskrimum Polda Kalteng turun langsung ke lapangan untuk mengecek lokasi.

Hadir dalam kegiatan pengecekan itu, Humas PT. KIU, pengurus Koperasi, Kepala Desa Satiung dan sejumlah masyarakat.

Pantauan catatan.co.id di lapangan, sempat memanas karena saling adu argumentasi data antara salah satu warga yang mewakili dengan pihak perusahaan.

Manager Humas PT KIU, Hendry mengatakan, bahwa penggarapan lahan yang dilakukan merujuk selain SPK, menindaklanjutinya juga ada yang namanya BABL tahun 2007 – 2008.

“Artinya, proses pembukaan lahan kita, itukan paralelnya dengan perizinan tahun 2004. Faktual terakhir itu di verifikasi tahun 2008. Makanya, posisinya lahan ini yang sudah kita sepakati dengan pengurus Koperasi Sinar Bahagia BABL tahun 2008,” kata Hendry kepada penyidik di lokasi dan dihadapan sejumlah masyarakat setempat.

Sementara, Masroby mewakili masyarakat desa Satiung berpegang teguh dengan SPK awal untuk pembukaan lahan koperasi yang dilakukan oleh PBS PT KIU Makin Group.

“Kami berpegang dari SPK nomor 23 tertanggal 10 Nopember 2006,” tegas Roby kepada Humas PT. KIU dan penyidik.

Untuk diketahui lanjut Masroby, awalnya Koperasi Sinar Bahagia memiliki lahan seluas 2000 hektar yang dilakukan kemitraan dengan PBS PT. KIU.

Kemudian, terbitlah Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) tahun 2006 untuk pembukaan lahan dengan pembagian 1000 hektar untuk Koperasi dan 1000 lagi untuk perusahaan. Titik koordinat lahan tersebut sudah dilakukan menurut kesepakatan.

“Berjalan waktu, lokasi lahan SPK itu diduga mau dirubah oleh pihak perusahaan dengan modus berubah menjadi BABL tahun 2007 dan BABL.2008. Entah itu, artinya apa BABL itu, apakah pembagian lahan atau apa. Namun saya mewakili masyarakat berpegang teguh terhadap perjanjian awal yaitu SPK tahun 2006,” dasar pungkasnya. (C12).

aruna catering sampit

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang KamiRedaksi | Pedoman Media SiberDisclaimer

© Copyright catatan.co.id. Designed and Developed by catatan.co.id