Cerita Beben, Penulis Kuyang, Sering Diganggu saat Menyelesaikan Tulisan

Cerita Beben, Penulis Kuyang, Sering Diganggu saat Menyelesaikan Tulisan

CATATAN.CO.ID, Sampit – Suara motor butut berganti gemerincik kunci perlahan mendekat. Seperti biasa, Ahmad Benbela, dengan langkah santai masuk ke sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kotawaringin Timur, di Jalan Achmad Yani, Sampit.

Beben, sapaan akrabnya, punya ritual rutin sebelum memulai hari. Mengambil air dari galon lalu memanaskannya untuk menyeduh kopi hitam kesukaannya. Tapi kali ini tampak berbeda. Wajahnya lebih berseri.

“Hari ini mau cari ransel untuk berangkat,” ucapnya, sambil menyeruput kopi hitam buatannya.

Sebentar lagi pria asli Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya ini akan melangkahkan kaki ke ibu kota Indonesia. Dia akan menghadiri peluncuran buku perdananya berjudul Kuyang.

Ini akan menjadi awal melejit karirnya sebagai penulis novel horor. Mungkin akan menjadi penulis yang tembus nasional yang pertama dari Kalimantan Tengah.

Namun di dalam menulis karya perdananya ini Beben harus menempuh perjuangan yang luar biasa. Berperang dengan batin, membunuh rasa malas di antara rutinitas sebagai reporter televisi plat merah, sudah menjadi pekerjaannya setiap hari. Belum lagi gangguan-gangguan mistis yang dialaminya selama menyelesaikan novel itu.

Diakui Beben selama menulis ada-ada saja hal ganjil yang ia alami. Diganggu suara-suara misterius hingga mengalami sejumlah kejadian yang di luar nalar.

“Ketika menulis, di atas plafon sering muncul suara-suara aneh. Saat dicek tidak ada. Saya pastikan bukan tikus, bukan juga kucing,” ujarnya.

Beben sering mendengar tetangga sebelah baraknya teriak-teriak tidak jelas. Lalu ditenangkan oleh istrinya dengan bacaan ayat suci.

“Nah, berarti itu kan ada yang tidak beres ini,” katanya.

Kecurigaannya memuncak ketika anak tetangga sebelah rumahnya harus mengungsi karena sering menangis ketakutan. Bahkan terpaksa memutuskan untuk pindah dari barak sebelah. Padahal baru saja menempati barak itu.

“Setelah barak sebelah kosong makin menjadi-jadi. Pokoknya ada saja suara aneh,” ceritanya.

Hal-hal ini kerap membuat Beben merasa waswas dalam menulis misteri sosok mistis kuyang itu. Kendati demikian Beben terus melawan ketakutannya hingga akhirnya novelnya tersebut selesai.

Terkait sosok kuyang, Beben mengaku pernah melihat secara langsung sosok yang diyakini sebagai siluman berwujud kepala manusia dengan organ tubuh menempel. Kuyang sering kali terbang mencari mangsa darah bayi atau darah wanita setelah melahirkan.

“Pernah sekali saat masih kecil, kuyang menampakkan diri saat saya dalam kelambu. Saya tanya sama ibu, beliau malah pura-pura tidur, lalu saya pun turut tidur karena takut,” ungkapnya.

Bahkan keanehan-keanehan itu berpengaruh di kehidupan pribadi pria pecinta kucing itu. Bahkan dia pernah berpikir perlu diruqyah.

“Memang dia ini aneh, ada sesuatu yang dipendamnya entah apa. Tapi di dalam diamnya teman saya itu menyimpan bakat dan kemampuan yang luar biasa,” ujar Mashud, rekan seprofesi Beben.

Kini sosok menakutkan di masa kecilnya justru menjadi objeknya dalam berkarya. Tak hanya berhasil meluncurkan buku tapi menjadi jalan baginya bertemu dengan penulis nasional idolanya Raditya Dika.

Setelah trending di kaskus kini buku karya Beben siap menjadi buku yang terlaris di Indonesia. Bagaimana tidak, dia menulis tidak hanya sekadar mengkhayal namun juga melakukan observasi. Satu-satunya yang belum berhasil dia lakukan adalah mewawancarai secara langsung pelaku atau praktisi ilmu kuyang ini. Mungkin setelah ini si kuyang akan ada klarifikasi atau justru mau foto bareng dengan penulisnya. Kita tunggu saja buku selanjutnya. (C1)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *